Jumat, 15 April 2016

POSTER

DEFINISI
Poster adalah media gambar yang memiliki sifat persuatif tinggi karena menampilkan persoalan (tema) yang menimbulkan perasaan kuat terhadap khalayak. Poster adalah semua bentuk media cetak berukuran besar yang di pasang tembok atau permukaan sejenis. Umumnya poster terdiri dari teks dan elemen visual, selain itu ada juga poster yang berisi seluruhnya teks atau seluruhnya visual. Poster dirancang untuk menarik perhatian sekaligus menyampaikan informasi.

FUNGSI
Poster bisa menjadi sarana iklan, pendidikan, propaganda, dan dekorasi. Selain itu bisa pula berupa salinan karya seni terkenal.

UKURAN
Biasanya poster berukuran :
 A3 (29,7 x 42 cm)
 A1 (59 x 83 cm)
 Dll Ukuran poster yang tepat adalah ketika poster tersebut dapat dilihat dalam jarak 5-6 meter.

ISI
Isi poster dapat bertujuan untuk :
  Memberikan Informasi
  Memberikan anjuran
  Memberikan larangan
  Memberikan peringatan

CIRI-CIRI POSTER
1 Dapat menjangkau khalayak sasaran heterogen.
2. Mempunyai frekuensi tinggi sehingga dapat dilihat berkali-kali.
3. Cepat memperoleh perhatian.
4. Adanya kesatuan yang harmonis antara unsur-unsur penyusunan poster seperti unsur teks verbal headline, bodycopy, caption (keterangan gambar), unsur rupa / visualnya (ilustrasi / elemen disain).
5. Memberikan kejutan sehingga menarik perhatian, bisa dicapai dengan kontras warna, ilustrasi, bentuk huruf dan komposisi.

KOMPONEN POSTER
Komponen poster paling tidak memiliki :
1. Judul
2. Ilustrasi
3. Sub judul
4. Produksi (logo perusahaan)

Lebih lengkapnya, komponennya berupa :
 1. Judul (headline)
2. Sub judul (kalau perlu)
3. Ilustrasi (unsur rupa/ elemen disain)
4. Body copy
5. Caption (keterangan gambar)
6. Produksi (logo perusahaan)

Apabila untuk jenis poster seminar biasanya memiliki anatomi sebagai berikut :
 Headline ( judul acara)
 Sub Headline ( tempat dan tanggal pelaksanaan)
 Ilustrasi / Foto  Body Copy (keterangan dan detail acara)
 Footer (sponsor, contact person)

SYARAT POSTER
Dalam pembuatan poster memiliki 6 syarat yang harus dipenuhi, yakni :
1. Sederhana
2. Menyajikan satu ide dan untuk mencapai satu tujuan pokok
3. Berwarna
4. Slogannya ringkas dan jitu
5. Tulisan jelas
6. Motif dan desain bervariasi

LANGKAH MEMBUAT POSTER
Langkah Pembuatan Poster Langkah-langkah dalam pembuatan poster dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Perhatikan dan pelajari tema/materi
2. Pelajari draf rancangan/naskahnya
3. Siapkan alat dan bahannya ( manual/digital)
4. Buat sketsa
5. Buat desainnya
6. Perhatikan segi estetika (prinsip dan unsur media grafis)

JENIS-JENIS POSTER BERDASARKAN TUJUANNYA
1. Informational poster (untuk memberikan informasi)
2. Educational poster (untuk mempromosikan suatu produk)
3. Propaganda poster (untuk membujuk biasanya digunakan dalam hal politik)
4. Teaser poster (untuk membuat penasaran)

Source of : https://adingpintar.files.wordpress.com/2012/03/poster-2012.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/197706132001122-LAKSMI_DEWI/MEDIA_GRAFIS/MEDIA_GRAFIS-HSL_MHSISSWA/poster/POSTER_fix.pdf

LEMBAR KERJA SISWA

DEFINISI LEMBAR KERJA SISWA
Lembar Kerja Siswa adalah sumber belajar penunjang yang dapat meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi kimia yang harus mereka kuasai (Senam, 2008). LKS merupakan alat bantu untuk menyampaikan pesan kepada siswa yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Melalui LKS ini akan memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dan mengefektifkan waktu, serta akan menimbulkan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran.

MANFAAT LEMBAR KERJA SISWA
Mengajar dengan menggunakan LKS ternyata semakin populer terutama pada masa dekade terakhir ini. Manfaat yang diperoleh dengan menggunakan LKS (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992 : 40), antara lain : 1. Memudahkan guru dalam mengelola proses belajar, misalnya mengubah kondisi belajar dari suasana “guru sentris” menjadi “siswa sentris”. 2. Membantu guru mengarahkan siswanya untuk dapat menemukan konsep-konsep melalui aktivitasnya sendiri atau dalam kelompok kerja. 3. Dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses, mengembangkan sikap ilmiah serta membangkitkan minat siswa terhadap alam sekitarnya. 4. Memudahkan guru memantau keberhasilan siswa untuk mencapai sasaran belajar. 

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA
Pengembangan LKS dapat dilakukan dengan dengan mengadaptasi langkahlangkah pengembangan Modul / Paket Belajar (B. Suryobroto, 1986 : 155). Berdasakan langkah-langkah pengembangan Modul dan Paket Belajar tersebut, maka LKS dapat dikembangkan melalui langkah-langkah sebagai berikut : 1. Menetapkan standar kompetensi, judul, dan tujuan pembelajaran (kompetensi dasar) yang ingin dicapai. Tujuan pembelajaran (kompetensi dasar) merupakan TPU pada Kurikulum 1994, sedangkan indikator merupakan TPK. 2. Menganalisis dan menjabarkan kompetensi dasar menjadi indikator dengan langkah-langkah sebagai berikut : a) Merumuskan kompetensi dasar yang ingin dicapai. b) Memilih dan menjabarkan materi pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar yang ingin dicapai. c) Membuat indikator pencapaian kompetensi dasar.

PENILAIAN LEMBAR KERJA SISWA
Menurut T. Raka Joni (1983 : 43-45), penilaian LKS dapat diadaptasi dari cara penilaian Paket Belajar, yaitu :
Penilaian pra input, yaitu penilaian yang dilakukan segera setelah LKS selesai disusun dengan tujuan untuk pemantapan / penyempurnaan sebelum LKS disebar luaskan. Penilaian ini dilakukan oleh tim pengembang dengan cara menganalisis LKS berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dengan bantuan instrumen penilaian yang merupakan terjemahan dari kriteria tersebut. 2. Penilaian input, yaitu penilaian yang bertujuan mengetahui peran LKS dalam keseluruhan program uji coba. Penilaian ini dilakukan sebelum LKS diterapkan di dalam kelas. Penilaian dilakukan oleh personel yang terlibat dalam uji coba, seperti : tim pengembang, dosen, dan administrator. Cara penilaian sama dengan penilaian pra input. 3. Penilaian proses, yaitu penilaian yang bertujuan mengetahui seberapa jauh LKS tersebut sesuai dengan kondisi kelas yang sebenarnya, yang akhirnya akan dipakai untuk penyempurnaan atau merevisi LKS. Penilaian ini dilakukan ketika LKS sedang diterapkan. Caranya dapat dengan mengadakan observasi kelas dan wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat. Beberapa hal yang juga sangat perlu diperhatikan dalam penilaian kualitas LKS adalah : 1. Gambar Gambar yang baik untuk LKS adalah yang dapat menyampaikan pesan / isi dari gambar tersebut secara efektif kepada pengguna LKS. Gambar fotografi yang berkualitas tinggi belum tentu dapat dijadikan gambar LKS yang efektif. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah kejelasan pesan / isi dari gambar itu secara keseluruhan. 2. Penampilan Penampilan adalah sangat penting dalam LKS. Pertama-tama siswa akan tertarik pada penampilan LKS, bukan isinya. Apabila suatu LKS ditampilkan dengan penuh kata-kata, kemudian ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa, hal ini menimbulkan kesan jenuh sehingga membosankan dan tidak menarik. Apabila ditampilkan dengan gambar saja, itu tidak mungkin karena pesan / isinya tidak akan sampai. Jadi yang baik adalah LKS yang memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan. 

KRITERIA LEMBAR KERJA SISWA
Menurut Endang Widjajanti (2010), aspek-aspek yang harus dipenuhi oleh suatu LKS yang baik yaitu: a. Pendekatan penulisan adalah penekanan keterampilan proses, hubungan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kehidupan dan kemampuan mengajak siswa aktif dalam pembelajaran. b. Kebenaran konsep adalah menyangkut kesesuaian antara konsep yang dijabarkan dalam LKS dengan pendapat ahli kimia dan kebenaran materi setiap materi pokok c. Kedalaman Konsep terdiri dari muatan latar belakang sejarah penemuan konsep, hukum, atau fakta dan kedalaman materi sesuai dengan kompetensi siswa berdasarkan Kurikulum KTSP d. Keluasan Konsep adalah kesesuaian konsep dengan materi pokok dalam kurikulum KTSP, hubungan konsep dengan kehidupan sehari-hari dan informasi yang dikemukakan mengikuti perkembangan zaman Kejelasan kalimat adalah berhubungan dengan penggunaan kalimat yang tidak menimbulkan makna ganda serta mudah dipahami f. Kebahasaan adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baku dan mampu mengajak siswa interaktif g. Evaluasi belajar yang disusun dapat mengukur kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik secara mendalam h. Kegiatan siswa / percobaan kimia yang disusun dapat memberikan pengalaman langsung, mendorong siswa menyimpulkan konsep, hukum atau fakta serta tingkat kesesuaian kegiatan siswa / percobaan kimia dengan materi pokok Kurikulum KTSP. i. Keterlaksanaan meliputi kesesuaian materi pokok dengan alokasi waktu di sekolah dan kegiatan siswa / percobaan kimia dapat dilaksanakan. j. Penampilan Fisik yaitu desain yang meliputi konsistensi, format, organisasi, dan daya tarik buku baik, kejelasan tulisan dan gambar dan dapat mendorong minat baca siswa.

Source : http://digilib.unila.ac.id/1753/8/BAB%20II.pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/das-salirawati-msi-dr/19penyusunnan-dan-kegunaan-lks.pdf
                    



Senin, 04 April 2016

TUGAS MODEL DIMENSI

MODEL KERJA
SPYGLASS (TEROPONG PRISMA)
Alat dan Bahan:
1.      Kardus
2.      Solatip
3.      Cermin prisma 2 buah
Langkah Pembuatan:
1.      Buatlah pola teropong menggunakan kardus sesuai dengan gambar.
2.      Letakkan cermin prisma sesuai dengan gambar.
3.      Rekatkan antar sisi kardus dengan selotip.
Cara Kerja Alat:
1.      Cahaya masuk ke lubang 1 kemudian cermin 1 memantulkan berkas dengan pantulan sinar sempurna dan memendekkan ukuran fisik alat tersebut dan berfungsi untuk menghasilkan bayangan tegak.
2.      Dari cermian 1 dipantulkan ke cermin 2, sehingga dari cermin 2 membalikkan kembali bayangan pada bidang vertikal yang lainnya pada bidang horisontal.
3.      Objek dapat dilihat oleh mata.





Penjelasan:
Teropong prisma menggunakan dua buah prisma segitiga yang berfungsi sebagai cermin dengan sudut 90°. Prisma ini membalikkan berkas sinar sehingga bayangan benda yang terbentuk sama besar dan terbalik. Selain itu, dengan menggunakan dua buah prisma, panjang teropong dapat diperpendek.

Oleh Kelompok 8:
1.      Fitri Kamelia               (1403066037)
2.      Muizzudin Rifki A.     (1403066070)
3.      Syifa Diatmika            (1403066071)

4.      Widy Lestari               (1403066072)

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Salah satu kriteria yang sebaiknya di gunakan dalam pemilihan media adalah dukungan terhadap isi bahan pelajaran dan kemudahan memperolehnya. Apabila media yang sesuai belum tersedia maka pendidik berupaya untuk mengembangkannya sendiri. Sebelum membahas tentang pengembangan media pengajaran tersebut perlu dikemukakan prinsip umum yang perlu dikemukakan prinsip umum yang perlu diperhatikan pada saat mencari dan menentukan jenis media yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Peranan media akan terlihat jika pendidik pandai memanfaatkannya. Ketika fungsi-fungsi media pelajaran diaplikasikan ke dalam proses belajar mengajar maka akan terlihat peranannya sebagai berikut:
·         Media yang digunakan pendidik sebagai penjelas dari keterangan terhadap suatu
bahan yang disampaikan.
·         Media dapat memunculkan permasalahan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan
oleh para peserta didik.
·         Media sebagai sumber belajar bagi peserta didik.

Bertolak dari fungsi dan peranan media diharapkan pemahaman pendidik terhadap media menjadi lebih jelas sehingga tidak memanfaatkan media secara sembarangan. Pendidik dapat mengembangkan media sesuai kemampuannya dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip dan faktor-faktor dalam memilih dan menentukan media yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Langkah-langkah dalam pemanfaatan media:
·         Merumuskan tujuan pengajaran dengan memanfaatkan media.
·         Persiapan pendidik. Pada fase ini pendidik memilih dan memanfaatkan media massa yang akan dimanfaatkan guna mencapai tujuan.
·         Persiapan kelas. Peserta didik atau kelas harus mempunyai persiapan dalam menerima pelajaran dengan menggunakan media tertentu.
·         Penyajian dan pemanfaatan media. Pada fase ini penyajian bahan pelajaran dengan memanfaatkan media pengajaran.
·         Kegiatan belajar peserta didik. Pada fase ini peserta didik belajar dengan memanfaatkan media pengajaran.
·         Evaluasi pengajaran. Pada langkah ini kegiatan belajar di evaluasi sampai sejauh mana tujuan pengajaran tercapai, yang sekaligus dapat dinilai sejauh mana pengaruh media sebagai alat bantu dapat menunjang keberhasilan proses belajar peserta didik.
Sebagai mana telah diutarakan di atas, bahwa salah satu jenis media yaitu media visual. Media visual (image) memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman (melalui elaborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar lebih efektif, visual ditempatkan pada konteks yang bermakna dan peserta didik harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Ada beberapa prinsip umum yang perlu diketahui untuk penggunaan efektif media berbasis visual sebagai berikut :
·         Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis, karton, bagan, dan diagram. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci dengan realisme sulit diproses dan dipelajari bahkan seringkali mengganggu perhatian peserta didik untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan.
·         Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
·         Gunakan grafik untuk menggambarkan ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan.
·         Ulangi sajian visual dan libatkan audience untuk meningkatkan daya ingat.
·         Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep, misalnya dengan menampilkan konsep-konsep yang divisualkan itu secara berdampingan.
·         Hindari visual yang tidak berimbang.
·         Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual.
·         Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca.
·         Visual, khususnya diagram, amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks.
·         Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsir dengan benar sebaiknya terbatas, jumlah aksi terpisah yang penting pesan-pesannya harus ditafsirkan dengan benar, semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda.
·         Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi.
·         Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual, seperti lumpur, dan kemiskinan, memberi nama orang, tempat, atau obyek, menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya, dan menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan, pikirkan, atau katakan.
·         Warna harus digunakan secara realistik.
·         Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen.

Visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada peserta didik dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar / ilustrasi, sketsa / gambar garis, grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu obyek atau situasi. Sementara itu, grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu obyek atau situasi. Keberhasilan penggunaan media berbasis visual ditentukan oleh kualitas dan efektifitas bahan-bahan visual dan grafik itu.
Hal ini bisa dicapai dengan mengatur dan mengorganisasikan gagasan-gagasan yang timbul, merencanakannya dengan seksasama. Jika mengamati bahan-bahan grafis, gambar, dan lain-lain yang ada di sekitar kita, seperti majalah, iklan-iklan, papan informasi, kita akan menemukan banyak gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. Tataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. tataan tersebut haruslah dapat dimengerti, terang / dapat dibaca, dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunaannya. Hal-hal lain yang juga harus diperhatikan adalah:
1.      Kesederhanaan
Secara umum kesederhanaan itu mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan peserta didik menangkap dan memahami pesan yang disajikan visual itu. Pesan yang panjang dan rumit haruslah dibagi-bagi agar mudah dibaca. Demikian pula teks yang menyertai bahan visual haruslah dibatasi misalnya antara 15 sampai dengan 20 kata. Kata-kata harus memakai huruf yang sederhana dengan gaya huruf yang mudah terbaca dan tidak terlalu beragam dalam satu tampilan ataupun serangkaian tampilan visual. Kalimat-kalimatnya juga harus ringkas dan padat dan mudah dimengerti.
2.      Keterpaduan
Keterpaduan mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemen-elemen visual yang ketika di amati akan berfungsi secara bersama-sama. Elemen-elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan sehinggga visual itu merupakan suatu bentuk menyeluruh yang dapat dikenal yang dapat membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya.
3.      Penekanan
Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin, dan diperlukan penekanan agar menarik minat. dengan menggunakan ukuran, hubungan-hubungan, perspektif, warna, atau ruang, penekanan dapat diberikan kepada unsur terpenting.
4.      Keseimbangan
Bentuk atau pola yang dipilih sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan meskipun tidak seluruhnya simetris disebut keseimbangan formal. pengembangan formal dan informal memerlukan daya imajinasi yang lebih tinggi dan keinginan bereksperimen dari perancang visual.
5.      Bentuk
Bentuk yang aneh dan asing dapat membangkitkan minat dan perhatian. Oleh karena itu pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan, informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan.
6.      Garis
Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus.
7.      Tekstur
Tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna.
8.      Warna
Warna merupakan unsur visual yang penting, tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak yang baik. warna digunakan untuk memberikan kesan pemisahan atau penekanan, atau membangun keterpaduan. disamping itu akan menimbulkan efek realisme pada situasi yang digambarkan dan menciptakan respon emosional tertentu. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna, yaitu pemilihan warna khusus (merah, biru, kuning, dan sebagainya), nilai warna (tingkat ketebalan dan ketipisan warna itu dibandingkan dengan unsur lain dalam visual tersebut), dan insensitas atau kekuatan warna itu untuk memberikan dampak yang diinginkan.

Source of: UNIMED-Article-23452-Johannes Jefria Gultom.pdf

PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN

PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN
Ø  Pengertian Media
Suatu medium (jamak: media) adalah perantara/pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar”, yakni perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Media pembelajaran bisa dikatakan sebagai alat yang bisa merangsang siswa untuk supaya terjadi proses belajar. Sanjaya (2008) menyatakan bahwa media pembelajaran meliputi perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan dan perangkat lunak yang mengandung pesan. Namun demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, tapi juga hal-hal lain yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan.
Ø  Kerucut Pengalaman Dale dan Ide Bunner terdiri dari:
o   Simbolik, terdiri dari:
·         Simbol Verbal
·         Simbol Visual
o   Ikonik, terdiri dari:
·         Tape recorder/radio
·         Film statis
·         Film gerak
·         Televisi
o   Enactive, terdiri dari:
·         Pertunjukkan
·         Karya wisata
·         Demonstrasi
·         Pengalaman dramatik
·         Pengalaman buatan
Kerucut pengalaman memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati dan mendengarkan melalui media tertentu dan proses mendengarkan melalui bahasa. Semakin konkret siswa mempelajari bahan pelajaran, maka semakin banyak pengalaman yang diperolehnya. Jika kita mencermati kerucut pengalaman tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan itu dapat diperoleh melalui pengalaman langsung dan tidak langsung. Semakin langsung objek yang dipelajari, maka semakin konkret pengetahuan yang diperoleh, sebaliknya jika semakin tidak langsung pengetahuan itu diperoleh, maka semakin abstrak pengetahuan siswa. Berdasarkan uraian di atas maka kedudukan komponen media dan sumber belajar dalam proses belajar mengajar memiliki peran dan fungsi yang sangat penting, sebab tidak semua pengalaman belajar dapat diraih secara langsung. Dalam hal ini media dan sumber belajar dapat digunakan agar dapat memberikan pengetahuan yang konkret, tepat, dan mudah dipahami.
Ø  Fungsi media pembelajaran:
o   Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
o   Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
o   Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
o   Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.
o   Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang sama.
Ø  Kontribusi media pembelajaran:
o   Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
o   Pembelajaran dapat lebih menarik
o   Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
o   Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
o   Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
o   Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
o   Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
o   Peran guru berubahan kearah yang positif
Ø  Persoalan yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan pengajaran berbasis komputer:
o   Perangkat keras dan lunak yang mahal dan cepat ketinggalan jaman
o   Teknologi yang sangat cepat berubah, sangat memungkinkan perangkat yang dibeli saat ini beberapa tahun kemudian akan ketinggalan zaman.
o   Pembuatan program yang rumit serta dalam pengoperasian awal perlu pendamping guna menjelaskan penggunaannya. Hal ini bisa disiasati dengan pembuatan modul pendamping yang menjelaskan penggunaan dan pengoperasian program.
Ø  Pemakaian komputer dalam kegiatan pembelajaran:
o   Untuk Tujuan Kognitif yaitu komputer dapat mengajarkan konsep-konsep aturan, prinsip, langkah-langkah, proses, dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut dengan dengan sederhana dengan penggabungan visual dan audio yang dianimasikan. Sehingga cocok untuk kegiatan pembelajaran mandiri.
o   Untuk Tujuan Psikomotor yaitu dengan bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games & simulasi sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh program antara lain; simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam medan yang paling berat, simulasi sistem antrian dalam teori antrian dan sebagainya.
o   Untuk Tujuan Afektif yaitu bila program didesain secara tepat dengan memberikan potongan clip suara atau video yang isinya menggugah perasaan, pembelajaran sikap/afektif pun dapat dilakukan mengunakan media komputer.
Ø  Krtiteria pemilihan media pembelajaran
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media adalah bahwa media adalah harus dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya bila tujuan atau kompetensi siswa bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Selain pertimbangan tersebut Sanjaya (2008) mengungkapkan sejumlah pertimbangan lain yang dapat kita gunakan dalam memilih media pembelajaran yang tepat, yakni dengan menggunakan kata ACTION (Access, Cost, Technology, Interactivity, Organization, Novelty).
o  Access, artinya bahwa kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam pemilihan media. Akses menyangkut aspek kebijakan, media yang diperlukan itu tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan
o  Cost, hal ini menyangkut pertimbangan biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan suatu media harus seimbang dengan manfaatnya.
o   Technology, dalam pemilihan media perlu juga dipertimbangkan ketersediaan teknologiya dan kemudahan dalam penggunaannnya.
o   Interactivity, media yang baik adalah media yang mampu menghadirkan komunikasi dua arah atau interaktifitas.
o   Organization, menyangkut pertimbangan dukungan organisasi atau lembaga dan bagaimana pengorganisasiannya.
o   Novelty, menyangkut pertimbangan aspek kebaruan dari media yang dipilih. Media yang lebih baru biasanya lebih menarik dan lebih baik.


Source of:        UNIMED-Article-23452-Johannes Jefria Gultom.pdf
                        PEPENPERMANA-Makalah-Mediadansumberbelajar.pdf