DEFINISI
Poster adalah media gambar yang memiliki sifat persuatif tinggi karena menampilkan persoalan (tema) yang menimbulkan perasaan kuat terhadap khalayak. Poster adalah semua bentuk media cetak berukuran besar yang di pasang tembok atau
permukaan sejenis. Umumnya poster terdiri dari teks dan elemen visual, selain itu ada
juga poster yang berisi seluruhnya teks atau seluruhnya visual. Poster dirancang untuk
menarik perhatian sekaligus menyampaikan informasi.
FUNGSI
Poster bisa menjadi sarana iklan, pendidikan, propaganda, dan dekorasi. Selain itu bisa pula
berupa salinan karya seni terkenal.
UKURAN
Biasanya poster berukuran :
A3 (29,7 x 42 cm)
A1 (59 x 83 cm)
Dll
Ukuran poster yang tepat adalah ketika poster tersebut dapat dilihat dalam jarak 5-6 meter.
ISI
Isi poster dapat bertujuan untuk :
Memberikan Informasi
Memberikan anjuran
Memberikan larangan
Memberikan peringatan
CIRI-CIRI POSTER
1 Dapat menjangkau khalayak sasaran heterogen.
2. Mempunyai frekuensi tinggi sehingga dapat dilihat berkali-kali.
3. Cepat memperoleh perhatian.
4. Adanya kesatuan yang harmonis antara unsur-unsur penyusunan poster seperti unsur teks
verbal headline, bodycopy, caption (keterangan gambar), unsur rupa / visualnya (ilustrasi
/ elemen disain).
5. Memberikan kejutan sehingga menarik perhatian, bisa dicapai dengan kontras warna,
ilustrasi, bentuk huruf dan komposisi.
KOMPONEN POSTER
Komponen poster paling tidak memiliki :
1. Judul
2. Ilustrasi
3. Sub judul
4. Produksi (logo perusahaan)
Lebih lengkapnya, komponennya berupa :
1. Judul (headline)
2. Sub judul (kalau perlu)
3. Ilustrasi (unsur rupa/ elemen disain)
4. Body copy
5. Caption (keterangan gambar)
6. Produksi (logo perusahaan)
Apabila untuk jenis poster seminar biasanya memiliki anatomi sebagai berikut :
Headline ( judul acara)
Sub Headline ( tempat dan tanggal pelaksanaan)
Ilustrasi / Foto
Body Copy (keterangan dan detail acara)
Footer (sponsor, contact person)
SYARAT POSTER
Dalam pembuatan poster memiliki 6 syarat yang harus dipenuhi, yakni :
1. Sederhana
2. Menyajikan satu ide dan untuk mencapai satu tujuan pokok
3. Berwarna
4. Slogannya ringkas dan jitu
5. Tulisan jelas
6. Motif dan desain bervariasi
LANGKAH MEMBUAT POSTER
Langkah Pembuatan Poster
Langkah-langkah dalam pembuatan poster dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Perhatikan dan pelajari tema/materi
2. Pelajari draf rancangan/naskahnya
3. Siapkan alat dan bahannya ( manual/digital)
4. Buat sketsa
5. Buat desainnya
6. Perhatikan segi estetika (prinsip dan unsur media grafis)
JENIS-JENIS POSTER BERDASARKAN TUJUANNYA
1. Informational poster (untuk memberikan informasi)
2. Educational poster (untuk mempromosikan suatu produk)
3. Propaganda poster (untuk membujuk biasanya digunakan dalam hal politik)
4. Teaser poster (untuk membuat penasaran)
Source of : https://adingpintar.files.wordpress.com/2012/03/poster-2012.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/197706132001122-LAKSMI_DEWI/MEDIA_GRAFIS/MEDIA_GRAFIS-HSL_MHSISSWA/poster/POSTER_fix.pdf
Jumat, 15 April 2016
LEMBAR KERJA SISWA
DEFINISI LEMBAR KERJA SISWA
Lembar Kerja Siswa adalah sumber belajar penunjang yang dapat meningkatkan
pemahaman siswa mengenai materi kimia yang harus mereka kuasai (Senam,
2008). LKS merupakan alat bantu untuk menyampaikan pesan kepada siswa yang
digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Melalui LKS ini akan memudahkan
guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dan mengefektifkan
waktu, serta akan menimbulkan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses
pembelajaran.
MANFAAT LEMBAR KERJA SISWA
Mengajar dengan menggunakan LKS ternyata semakin populer terutama pada
masa dekade terakhir ini. Manfaat yang diperoleh dengan menggunakan LKS (Hendro
Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992 : 40), antara lain :
1. Memudahkan guru dalam mengelola proses belajar, misalnya mengubah kondisi
belajar dari suasana “guru sentris” menjadi “siswa sentris”.
2. Membantu guru mengarahkan siswanya untuk dapat menemukan konsep-konsep
melalui aktivitasnya sendiri atau dalam kelompok kerja.
3. Dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses, mengembangkan
sikap ilmiah serta membangkitkan minat siswa terhadap alam sekitarnya.
4. Memudahkan guru memantau keberhasilan siswa untuk mencapai sasaran belajar.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA
Pengembangan LKS dapat dilakukan dengan dengan mengadaptasi langkahlangkah
pengembangan Modul / Paket Belajar (B. Suryobroto, 1986 : 155). Berdasakan
langkah-langkah pengembangan Modul dan Paket Belajar tersebut, maka LKS
dapat dikembangkan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menetapkan standar kompetensi, judul, dan tujuan pembelajaran (kompetensi
dasar) yang ingin dicapai. Tujuan pembelajaran (kompetensi dasar) merupakan
TPU pada Kurikulum 1994, sedangkan indikator merupakan TPK.
2. Menganalisis dan menjabarkan kompetensi dasar menjadi indikator dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
a) Merumuskan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
b) Memilih dan menjabarkan materi pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar
yang ingin dicapai.
c) Membuat indikator pencapaian kompetensi dasar.
PENILAIAN LEMBAR KERJA SISWA
Menurut T. Raka Joni (1983 : 43-45), penilaian LKS dapat diadaptasi dari cara
penilaian Paket Belajar, yaitu :
Penilaian pra input, yaitu penilaian yang dilakukan segera setelah LKS selesai
disusun dengan tujuan untuk pemantapan / penyempurnaan sebelum LKS disebar
luaskan. Penilaian ini dilakukan oleh tim pengembang dengan cara menganalisis
LKS berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dengan bantuan instrumen
penilaian yang merupakan terjemahan dari kriteria tersebut.
2. Penilaian input, yaitu penilaian yang bertujuan mengetahui peran LKS dalam
keseluruhan program uji coba. Penilaian ini dilakukan sebelum LKS diterapkan di
dalam kelas. Penilaian dilakukan oleh personel yang terlibat dalam uji coba, seperti
: tim pengembang, dosen, dan administrator. Cara penilaian sama dengan
penilaian pra input.
3. Penilaian proses, yaitu penilaian yang bertujuan mengetahui seberapa jauh LKS
tersebut sesuai dengan kondisi kelas yang sebenarnya, yang akhirnya akan
dipakai untuk penyempurnaan atau merevisi LKS. Penilaian ini dilakukan ketika
LKS sedang diterapkan. Caranya dapat dengan mengadakan observasi kelas dan
wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat.
Beberapa hal yang juga sangat perlu diperhatikan dalam penilaian kualitas LKS
adalah :
1. Gambar
Gambar yang baik untuk LKS adalah yang dapat menyampaikan pesan / isi dari
gambar tersebut secara efektif kepada pengguna LKS. Gambar fotografi yang
berkualitas tinggi belum tentu dapat dijadikan gambar LKS yang efektif. Oleh
karena itu, yang lebih penting adalah kejelasan pesan / isi dari gambar itu secara
keseluruhan.
2. Penampilan
Penampilan adalah sangat penting dalam LKS. Pertama-tama siswa akan tertarik
pada penampilan LKS, bukan isinya. Apabila suatu LKS ditampilkan dengan penuh
kata-kata, kemudian ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa,
hal ini menimbulkan kesan jenuh sehingga membosankan dan tidak menarik.
Apabila ditampilkan dengan gambar saja, itu tidak mungkin karena pesan / isinya
tidak akan sampai. Jadi yang baik adalah LKS yang memiliki kombinasi antara
gambar dan tulisan.
KRITERIA LEMBAR KERJA SISWA
Menurut Endang Widjajanti (2010), aspek-aspek yang harus dipenuhi oleh suatu
LKS yang baik yaitu:
a. Pendekatan penulisan adalah penekanan keterampilan proses, hubungan
ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kehidupan dan kemampuan mengajak
siswa aktif dalam pembelajaran.
b. Kebenaran konsep adalah menyangkut kesesuaian antara konsep yang
dijabarkan dalam LKS dengan pendapat ahli kimia dan kebenaran materi
setiap materi pokok
c. Kedalaman Konsep terdiri dari muatan latar belakang sejarah penemuan
konsep, hukum, atau fakta dan kedalaman materi sesuai dengan kompetensi
siswa berdasarkan Kurikulum KTSP
d. Keluasan Konsep adalah kesesuaian konsep dengan materi pokok dalam
kurikulum KTSP, hubungan konsep dengan kehidupan sehari-hari dan
informasi yang dikemukakan mengikuti perkembangan zaman Kejelasan kalimat adalah berhubungan dengan penggunaan kalimat yang
tidak menimbulkan makna ganda serta mudah dipahami
f. Kebahasaan adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baku dan mampu
mengajak siswa interaktif
g. Evaluasi belajar yang disusun dapat mengukur kemampuan kognitif, afektif,
dan psikomotorik secara mendalam
h. Kegiatan siswa / percobaan kimia yang disusun dapat memberikan pengalaman
langsung, mendorong siswa menyimpulkan konsep, hukum atau
fakta serta tingkat kesesuaian kegiatan siswa / percobaan kimia dengan
materi pokok Kurikulum KTSP.
i. Keterlaksanaan meliputi kesesuaian materi pokok dengan alokasi waktu di
sekolah dan kegiatan siswa / percobaan kimia dapat dilaksanakan.
j. Penampilan Fisik yaitu desain yang meliputi konsistensi, format, organisasi,
dan daya tarik buku baik, kejelasan tulisan dan gambar dan dapat
mendorong minat baca siswa.
Source : http://digilib.unila.ac.id/1753/8/BAB%20II.pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/das-salirawati-msi-dr/19penyusunnan-dan-kegunaan-lks.pdf
Senin, 04 April 2016
TUGAS MODEL DIMENSI
MODEL KERJA
SPYGLASS (TEROPONG PRISMA)
Alat
dan Bahan:
1.
Kardus
2.
Solatip
3.
Cermin
prisma 2 buah
Langkah
Pembuatan:
1.
Buatlah
pola teropong menggunakan kardus sesuai dengan gambar.
2.
Letakkan
cermin prisma sesuai dengan gambar.
3.
Rekatkan
antar sisi kardus dengan selotip.
Cara
Kerja Alat:
1.
Cahaya
masuk ke lubang 1 kemudian cermin 1 memantulkan berkas dengan pantulan sinar
sempurna dan memendekkan ukuran fisik alat tersebut dan berfungsi untuk
menghasilkan bayangan tegak.
2.
Dari
cermian 1 dipantulkan ke cermin 2, sehingga dari cermin 2 membalikkan kembali
bayangan pada bidang vertikal yang lainnya pada bidang horisontal.
3.
Objek
dapat dilihat oleh mata.
Penjelasan:
Teropong
prisma menggunakan dua buah prisma segitiga yang berfungsi sebagai cermin
dengan sudut 90°. Prisma ini membalikkan berkas sinar sehingga bayangan benda
yang terbentuk sama besar dan terbalik. Selain itu, dengan menggunakan dua buah
prisma, panjang teropong dapat diperpendek.
Oleh
Kelompok 8:
1.
Fitri Kamelia (1403066037)
2.
Muizzudin Rifki
A. (1403066070)
3.
Syifa Diatmika (1403066071)
4.
Widy Lestari (1403066072)
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Salah satu kriteria yang sebaiknya
di gunakan dalam pemilihan media adalah dukungan terhadap isi bahan pelajaran
dan kemudahan memperolehnya. Apabila media yang sesuai belum tersedia maka
pendidik berupaya untuk mengembangkannya sendiri. Sebelum membahas tentang
pengembangan media pengajaran tersebut perlu dikemukakan prinsip umum yang
perlu dikemukakan prinsip umum yang perlu diperhatikan pada saat mencari dan
menentukan jenis media yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar.
Peranan media akan terlihat jika pendidik pandai memanfaatkannya. Ketika
fungsi-fungsi media pelajaran diaplikasikan ke dalam proses belajar mengajar
maka akan terlihat peranannya sebagai berikut:
·
Media
yang digunakan pendidik sebagai penjelas dari keterangan terhadap suatu
bahan yang disampaikan.
·
Media
dapat memunculkan permasalahan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan
oleh para peserta didik.
·
Media
sebagai sumber belajar bagi peserta didik.
Bertolak dari fungsi dan peranan media
diharapkan pemahaman pendidik terhadap media menjadi lebih jelas sehingga tidak
memanfaatkan media secara sembarangan. Pendidik dapat mengembangkan media
sesuai kemampuannya dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip dan faktor-faktor
dalam memilih dan menentukan media yang akan digunakan dalam proses belajar
mengajar. Langkah-langkah dalam pemanfaatan media:
·
Merumuskan
tujuan pengajaran dengan memanfaatkan media.
·
Persiapan
pendidik. Pada fase ini pendidik memilih dan memanfaatkan media massa yang akan
dimanfaatkan guna mencapai tujuan.
·
Persiapan
kelas. Peserta didik atau kelas harus mempunyai persiapan dalam menerima
pelajaran dengan menggunakan media tertentu.
·
Penyajian
dan pemanfaatan media. Pada fase ini penyajian bahan pelajaran dengan
memanfaatkan media pengajaran.
·
Kegiatan
belajar peserta didik. Pada fase ini peserta didik belajar dengan memanfaatkan
media pengajaran.
·
Evaluasi
pengajaran. Pada langkah ini kegiatan belajar di evaluasi sampai sejauh mana
tujuan pengajaran tercapai, yang sekaligus dapat dinilai sejauh mana pengaruh
media sebagai alat bantu dapat menunjang keberhasilan proses belajar peserta
didik.
Sebagai mana telah diutarakan di
atas, bahwa salah satu jenis media yaitu media visual. Media visual (image)
memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat
memperlancar pemahaman (melalui elaborasi struktur dan organisasi) dan
memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat dan dapat memberikan
hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar lebih efektif,
visual ditempatkan pada konteks yang bermakna dan peserta didik harus
berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya
proses informasi. Ada beberapa prinsip umum yang perlu diketahui untuk
penggunaan efektif media berbasis visual sebagai berikut :
·
Usahakan
visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis, karton, bagan,
dan diagram. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar
yang amat rinci dengan realisme sulit diproses dan dipelajari bahkan seringkali
mengganggu perhatian peserta didik untuk mengamati apa yang seharusnya
diperhatikan.
·
Visual
digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga
pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
·
Gunakan
grafik untuk menggambarkan ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit
demi unit pelajaran untuk digunakan.
·
Ulangi
sajian visual dan libatkan audience untuk meningkatkan daya ingat.
·
Gunakan
gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep, misalnya dengan menampilkan konsep-konsep
yang divisualkan itu secara berdampingan.
·
Hindari
visual yang tidak berimbang.
·
Tekankan
kejelasan dan ketepatan dalam semua visual.
·
Visual
yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca.
·
Visual,
khususnya diagram, amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks.
·
Visual
yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila
jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsir dengan benar sebaiknya terbatas,
jumlah aksi terpisah yang penting pesan-pesannya harus ditafsirkan dengan
benar, semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik
sehingga tidak terjadi penafsiran ganda.
·
Unsur-unsur
pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari
unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi.
·
Caption
(keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk menambah
informasi yang sulit dilukiskan secara visual, seperti lumpur, dan kemiskinan,
memberi nama orang, tempat, atau obyek, menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan
dengan visual sebelum atau sesudahnya, dan menyatakan apa yang orang dalam
gambar itu sedang kerjakan, pikirkan, atau katakan.
·
Warna
harus digunakan secara realistik.
·
Warna
dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan
komponen-komponen.
Visualisasi pesan, informasi, atau
konsep yang ingin disampaikan kepada peserta didik dapat dikembangkan dalam
berbagai bentuk, seperti foto, gambar / ilustrasi, sketsa / gambar garis,
grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Foto
menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu
obyek atau situasi. Sementara itu, grafik merupakan representasi simbolis dan artistik
sesuatu obyek atau situasi. Keberhasilan penggunaan media berbasis visual
ditentukan oleh kualitas dan efektifitas bahan-bahan visual dan grafik itu.
Hal ini bisa dicapai dengan mengatur
dan mengorganisasikan gagasan-gagasan yang timbul, merencanakannya dengan seksasama.
Jika mengamati bahan-bahan grafis, gambar, dan lain-lain yang ada di sekitar
kita, seperti majalah, iklan-iklan, papan informasi, kita akan menemukan banyak
gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual
yang akan ditampilkan. Tataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan.
tataan tersebut haruslah dapat dimengerti, terang / dapat dibaca, dan dapat
menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh
penggunaannya. Hal-hal lain yang juga harus diperhatikan adalah:
1.
Kesederhanaan
Secara umum kesederhanaan itu
mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. Jumlah elemen
yang lebih sedikit memudahkan peserta didik menangkap dan memahami pesan yang
disajikan visual itu. Pesan yang panjang dan rumit haruslah dibagi-bagi agar
mudah dibaca. Demikian pula teks yang menyertai bahan visual haruslah dibatasi
misalnya antara 15 sampai dengan 20 kata. Kata-kata harus memakai huruf yang
sederhana dengan gaya huruf yang mudah terbaca dan tidak terlalu beragam dalam
satu tampilan ataupun serangkaian tampilan visual. Kalimat-kalimatnya juga
harus ringkas dan padat dan mudah dimengerti.
2.
Keterpaduan
Keterpaduan mengacu kepada hubungan
yang terdapat di antara elemen-elemen visual yang ketika di amati akan
berfungsi secara bersama-sama. Elemen-elemen itu harus saling terkait dan
menyatu sebagai suatu keseluruhan sehinggga visual itu merupakan suatu bentuk
menyeluruh yang dapat dikenal yang dapat membantu pemahaman pesan dan informasi
yang dikandungnya.
3.
Penekanan
Meskipun penyajian visual dirancang
sesederhana mungkin, dan diperlukan penekanan agar menarik minat. dengan
menggunakan ukuran, hubungan-hubungan, perspektif, warna, atau ruang, penekanan
dapat diberikan kepada unsur terpenting.
4.
Keseimbangan
Bentuk atau pola yang dipilih
sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan
meskipun tidak seluruhnya simetris disebut keseimbangan formal. pengembangan
formal dan informal memerlukan daya imajinasi yang lebih tinggi dan keinginan
bereksperimen dari perancang visual.
5.
Bentuk
Bentuk yang aneh dan asing dapat
membangkitkan minat dan perhatian. Oleh karena itu pemilihan bentuk sebagai
unsur visual dalam penyajian pesan, informasi atau isi pelajaran perlu
diperhatikan.
6.
Garis
Garis digunakan untuk menghubungkan
unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian untuk mempelajari suatu
urutan-urutan khusus.
7.
Tekstur
Tekstur adalah unsur visual yang
dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Tekstur dapat digunakan untuk
penekanan suatu unsur seperti halnya warna.
8.
Warna
Warna merupakan unsur visual yang
penting, tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak
yang baik. warna digunakan untuk memberikan kesan pemisahan atau penekanan,
atau membangun keterpaduan. disamping itu akan menimbulkan efek realisme pada
situasi yang digambarkan dan menciptakan respon emosional tertentu. Ada tiga
hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna, yaitu pemilihan
warna khusus (merah, biru, kuning, dan sebagainya), nilai warna (tingkat
ketebalan dan ketipisan warna itu dibandingkan dengan unsur lain dalam visual
tersebut), dan insensitas atau kekuatan warna itu untuk memberikan dampak yang
diinginkan.
Source of:
UNIMED-Article-23452-Johannes Jefria Gultom.pdf
PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN
PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN
Ø Pengertian Media
Suatu medium (jamak: media) adalah
perantara/pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media berasal dari
bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara
harfiah berarti “perantara” atau “pengantar”, yakni perantara atau pengantar
sumber pesan dengan penerima pesan. Media pembelajaran bisa dikatakan sebagai
alat yang bisa merangsang siswa untuk supaya terjadi proses belajar. Sanjaya
(2008) menyatakan bahwa media pembelajaran meliputi perangkat keras yang dapat
mengantarkan pesan dan perangkat lunak yang mengandung pesan. Namun demikian,
media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, tapi juga hal-hal lain yang
memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan.
Ø Kerucut Pengalaman Dale dan Ide Bunner terdiri dari:
o
Simbolik,
terdiri dari:
·
Simbol
Verbal
·
Simbol
Visual
o
Ikonik,
terdiri dari:
·
Tape
recorder/radio
·
Film
statis
·
Film
gerak
·
Televisi
o
Enactive,
terdiri dari:
·
Pertunjukkan
·
Karya
wisata
·
Demonstrasi
·
Pengalaman
dramatik
·
Pengalaman
buatan
Kerucut pengalaman memberikan
gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui proses
perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati dan
mendengarkan melalui media tertentu dan proses mendengarkan melalui bahasa.
Semakin konkret siswa mempelajari bahan pelajaran, maka semakin banyak
pengalaman yang diperolehnya. Jika kita mencermati kerucut pengalaman tersebut,
maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan itu dapat diperoleh melalui pengalaman
langsung dan tidak langsung. Semakin langsung objek yang dipelajari, maka
semakin konkret pengetahuan yang diperoleh, sebaliknya jika semakin tidak
langsung pengetahuan itu diperoleh, maka semakin abstrak pengetahuan siswa.
Berdasarkan uraian di atas maka kedudukan komponen media dan sumber belajar
dalam proses belajar mengajar memiliki peran dan fungsi yang sangat penting,
sebab tidak semua pengalaman belajar dapat diraih secara langsung. Dalam hal
ini media dan sumber belajar dapat digunakan agar dapat memberikan pengetahuan
yang konkret, tepat, dan mudah dipahami.
Ø Fungsi media pembelajaran:
o
Memperjelas
pesan agar tidak terlalu verbalistis.
o
Mengatasi
keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
o
Menimbulkan
gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
o
Memungkinkan
anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori &
kinestetiknya.
o
Memberi
rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang
sama.
Ø Kontribusi media pembelajaran:
o
Penyampaian
pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
o
Pembelajaran
dapat lebih menarik
o
Pembelajaran
menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
o
Waktu
pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
o
Kualitas
pembelajaran dapat ditingkatkan
o
Proses
pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
o
Sikap
positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat
ditingkatkan
o
Peran
guru berubahan kearah yang positif
Ø Persoalan yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan pengajaran
berbasis komputer:
o
Perangkat
keras dan lunak yang mahal dan cepat ketinggalan jaman
o
Teknologi
yang sangat cepat berubah, sangat memungkinkan perangkat yang dibeli saat ini
beberapa tahun kemudian akan ketinggalan zaman.
o
Pembuatan
program yang rumit serta dalam pengoperasian awal perlu pendamping guna
menjelaskan penggunaannya. Hal ini bisa disiasati dengan pembuatan modul
pendamping yang menjelaskan penggunaan dan pengoperasian program.
Ø Pemakaian komputer dalam kegiatan pembelajaran:
o
Untuk
Tujuan Kognitif yaitu komputer dapat mengajarkan konsep-konsep aturan, prinsip,
langkah-langkah, proses, dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat
menjelaskan konsep tersebut dengan dengan sederhana dengan penggabungan visual
dan audio yang dianimasikan. Sehingga cocok untuk kegiatan pembelajaran
mandiri.
o
Untuk
Tujuan Psikomotor yaitu dengan bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk
games & simulasi sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia
kerja. Beberapa contoh program antara lain; simulasi pendaratan pesawat,
simulasi perang dalam medan yang paling berat, simulasi sistem antrian dalam
teori antrian dan sebagainya.
o
Untuk
Tujuan Afektif yaitu bila program didesain secara tepat dengan memberikan
potongan clip suara atau video yang isinya menggugah perasaan, pembelajaran
sikap/afektif pun dapat dilakukan mengunakan media komputer.
Ø Krtiteria pemilihan media pembelajaran
Kriteria yang paling utama dalam
pemilihan media adalah bahwa media adalah harus dengan tujuan pembelajaran atau
kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya bila tujuan atau kompetensi siswa
bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk
digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi
bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran
bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa
digunakan. Selain pertimbangan tersebut Sanjaya (2008) mengungkapkan sejumlah
pertimbangan lain yang dapat kita gunakan dalam memilih media pembelajaran yang
tepat, yakni dengan menggunakan kata ACTION (Access, Cost, Technology,
Interactivity, Organization, Novelty).
o
Access,
artinya bahwa kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam
pemilihan media. Akses menyangkut aspek kebijakan, media yang diperlukan itu
tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan
o
Cost,
hal ini menyangkut pertimbangan biaya. Biaya yang dikeluarkan untuk
penggunaan suatu media harus seimbang dengan manfaatnya.
o
Technology,
dalam pemilihan media perlu juga dipertimbangkan ketersediaan
teknologiya dan kemudahan dalam penggunaannnya.
o
Interactivity,
media yang baik adalah media yang mampu menghadirkan komunikasi dua
arah atau interaktifitas.
o
Organization,
menyangkut pertimbangan dukungan organisasi atau lembaga dan
bagaimana pengorganisasiannya.
o
Novelty,
menyangkut pertimbangan aspek kebaruan dari media yang dipilih.
Media yang lebih baru biasanya lebih menarik dan lebih baik.
Source of:
UNIMED-Article-23452-Johannes Jefria Gultom.pdf
PEPENPERMANA-Makalah-Mediadansumberbelajar.pdf
Langganan:
Postingan (Atom)


