Senin, 21 Maret 2016

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Pengertian
Pengertian media pembelajaran menurut Gagne dan Briggs dalam Arsyad (2006:4) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer. Dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Di lain pihak, National Education Association memberikan definisi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual dan peralatannya; dengan demikian, media dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, atau dibaca.
Berdasarkan uraian beberapa batasan tentang media, dapat dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung pada media adalah:
1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera.
2. Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yangterdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.
3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
4. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
5. Media Pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
6. Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya: modul, komputer, radio tape/ kaset, video recorder).
7. Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.

Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Sudjana & Rivai (2002;2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu : pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran; metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak se mata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran; Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lainlain. Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merinci manfaat media pendidikan sebagai berikut: Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu,akan dapat  mengurangi verbalisme, memperbesar perhatian siswa, meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama melalui gambar hidup. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa.Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar.
Dari uraian dan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan beberapa fungsi media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
·         Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga
dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
·         Media pembelajaran dapat meningkatkan clan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
·         Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.

Kriteria Media Pembelajaran
Dalam memilih media untuk kepentingan pembelajaran menurut Sudjana & Rivai (2002:34) sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
a)      Ketepatannya dengan tujuan pelajaran; artinya media pembelajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan digunakannya media pembelajaran.
b)      Dukungan terhadap isi bahan ajar; artinya bahan ajar yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.
c)      Kemudahan memperoleh media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar.

Pengembangan Media Pembelajaran
Ditinjau dari kesiapan untuk digunakan, media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni media yang sudah tersedia dan siap dimanfaatkan (media by utilization) dan media yang diperlukan namun belum tersedia sehingga perlu dirancang dan dikembangkan secara khusus untuk tujuan pembelajaran tertentu. Media pembelajaran dalam kelompok pertama dapat berupa media komersial yang dikembangkan oleh industri media atau media yang dapat diperoleh secara gratis dari Internet atau dari pengembangannya langsung.
Di dalam memanfaatkan media pembelajaran yang sudah ada, dosen maupun guru harus melakukan pemilihan yang tepat media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Dalam hal ini, Strauss dan Frost (1999, dikutip dalam Craig L. Scanlan, tt) mengidentifikasi sembilan faktor kunci yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran, yakni:
(1) kendala sumber daya lembaga,
(2) kesesuaian dengan materi pembelajaran,
(3) karakteristik pebelajar,
(4) sikap dan tingkat keterampilan dosen/guru,
(5) tujuan pembelajaran,
(6) hubungan dalam proses pembelajaran,
(7) lokasi pembelajaran,
(8) waktu pembelajaran (sinkron atau asinkron), dan
(9) tingkat kekayaan media.







Faktor-faktor ini digambarkan dalam diagram sebagai berikut:
Gambar 1. Kerangka Konseptual: Faktor-faktor yang mempengaruhi Pemilihan Media Pembelajaran (Strauss and Frost,1999 dikutip dalam Craig L. Scanlan, tt)
Reiser dan Dick (1996 dikutip dalam Craig L. Scanlan, tt) memberikan kriteria pemilihan media pembelajaran yang lebih global, yakni tiga kriteria pokok: (1) kepraktisan, (2) kesusuaian dengan pembelajaran, dan (3) kesesuaian dengan proses pembelajaran.
1. Kepraktisan: Apakah media yang dimaksud bersifat praktis dalam arti sudah tersedia dan mudah didapat, tidak mahal, pemakaiannya mudah (tidak memerlukan pelatihan khusus), dimengerti oleh pengajar? Sebelum memutuskan untuk memilih dan menggunakan suatu media pembelajaran, seorang dosen/guru perlu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
·         Kapasitas ruang kelas;
·         Jarak pandang dan jangkauan tingkat kedengarannya media tersebut;
·         Sejauh mana penggunaan media dapat diinterupsi oleh respon siswa atau aktivitas lain serta pemberian umpan balik kepada siswa;
·         Sejauh mana presentasinya dapat disesuaian dengan respon siswa;
·         Apakah di dalam pembelajaran diperlukan stimulus yang berupa gerakan, warna, gambar diam, ucapan/suara, tulisan;
·         Apakah alur penyajian materi di dalam media bersifat linier atau fleksibel dan dapat diulang-ulang;
·         Kompatibilitas (ketersediaan perangkat pendukung, baik hardware maupun software)
·         Kemungkinan gangguan yang ditimbulkan oleh penggunaan media
·         Kemudahan mengatasi masalah yang muncul jika terjadi kegagalan peralatan
·         Seberapa mudah media digunakan
·         Ketersediaan dana untuk mengadakan dan memanfaatkan serta merawat media tersebut
·         Perbandingan biaya dan tingkat efektivitas media
·         Reliabilitas media (tidak mudah rusak)
·         Kelengkapan dokumentasi (petunjuk pemakaian) dan materi pendukung (misalnya lembar kerja siswa).
·         Keterpakaian kembali (reusable): sebagian atau seluruh media dapat digunakan untuk pembelajaran topik-topik lain atau topik yang sama untuk kelas berbeda.
2. Kesesuaian dengan pembelajaran: Apakah media yang dimaksud sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis dan pengalaman siswa?
3. Kesesuaian dengan proses pembelajaran: Apakah media tersebut sesuai dengan strategi pembelajaran yang direncanakan? Apakah media tersebut dapat digunakan untuk menyajikan pelajaran yang dirrencanakan secara efektif dan efisien? Apakah media tersebut dapat mempermudah siswa mencapai tujuan belajar yang direncanakan? Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan untuk memilih media yang sesuai adalah sebagai berikut:
·         Tugas-tugas atau aktivitas belajar yang paling penting serta hasil belajar yang diinginkan.
·         Atribut media yang paling cocok untuk diterapkan sesuai dengan hasil belajar yang diinginkan.
·         Ketersediaan bahan ajar yang dapat digunakan.
·         Kemungkinan penggunaan beberapa teknologi atau media, dan apakah mereka saling melengkapi atau saling mengganggu.

Cakupan Pengembangan Media Pembelajaran
Dalam mengembangkan suatu media, apalagi media yang digunakan untuk proses pembelajaran harus memperhatikan banyak pertimbangan. Ketika mengembangkan media pembelajaran harus tersusun secara sistematik. Sehingga jika dirangkai, akan menghasilkan sikkus pengembangan media, yaitu:

Perencanaan                 Pengembangan

 


Implementasi                           Penilaian
Pertimbangan pemanfaatan media diantaranya adalah:
Ø  Karakteristik Warga belajar; jenis kelamin, pekerjaan, kebutuhan, kecakapan/ kemampuan  awal
Ø  Tujuan pembelajaran
Ø  Materi pembelajaran
Ø  Metode pembelajaran
Ø  Kondisi pembelajaran
Piaget mengemukakan penahapan dalam perkembangan intelektual anak yang dibagi ke dalam empat periode, yaitu :
1.      Periode sensori-motor ( 0 – 2,0 tahun )
2.      Periode pra-operasional (2,0 – 7,0 tahun )
3.      Periode operasional konkret ( 7,0 – 11,0 tahun )
4.      Periode opersional formal ( 11,0 – dewasa )
Selain itu, pengalaman belajar juga harus perlu diperhatikan, berikut Edgar Dale mengenai tangkapan pembelajaran:
1.      75% mata
2.      13% telinga
3.      12% lainnya
Prinsip Media Pembelajaran
Kriteria tersebut lebih dikenal istilah 7-M, yaitu:
1.      Mudah; artinya mudah membuatnya, mudah memperoleh bahan dan alatnya, serta mudah menggunakannya.
2.      Murah;  artinya  dengan  biaya  sedikit,  jika  memungkinkan  bahkan  tanpa  biaya,  media pembelajaran tersebut dapat dibuat.
3.      Menarik; artinya menarik atau merangsang perhatian  warga belajar  (peserta  pembelajaran), baik dari sisi bentuk, warna, jumlah, bahasa maupun isinya.
4.      Mempan;  artinya  efektif  atau  berdayaguna  bagi  warga  belajar  (peserta  pembelajaran) dalam memenuhi kebutuhannya.
5.      Mendorong;  artinya  isinya  mendorong  warga  belajar  (peserta  pembelajaran)  untuk bersikap  atau  berbuat  sesuatu  yang  positif,  baik  untuk  dirinya  sendiri  maupun lingkungannya sesuai tujuan belajar yang diharapkan.
6.      Mustari; artinya tepat waktu, isinya tidak basi, dan sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal/sekitar tempat pembelajaran.
7.      Manfaat; artinya isinya bernilai, mengandung manfaat, tidak mubazir atau sia-sia, apalagi merusak.



Source of :       Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT.pdf
                        Pengembangan_media_Pembelajaran.pdf
                        Ppt Dr. Sujarwo, M.Pd       
Media-pembelajaran-keaksaraan2 staff.ac.id.uny.pdf



Kamis, 10 Maret 2016

Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan mata kuliah yang dapat mengembangkan potensi mahasiswa melalui konsep media pembelajaran, landasan dan prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran, manfaat media pembelajaran, klasifikasi dan karakteristik media pembelajaran, pengembangan media pembelarajan berbasis ICT, perencanaan dan penggunaan media pembelajaran untuk anak usia dini, pengembangan media pembelajaran anak usia dini, pemeliharaan media pembelajaran, hakekat sumber belajar, pemanfaatan media dan sumber belajar pembelajaran di TK, alat permainan edukatif dan media dengan bahan-bahan limbah.
            Pemanfaatan media pembelajaran yang relevan dalam kelas dapat mengoptimalkan proses pembelajaran. Bagi guru, media membantu mengkonkritkan konsep atau gagasan dan membantu memotivasi peserta belajar aktif. Bagi siswa, media dapat menjadi jembatan untuk berpikir kritis dan berbuat. Dengan demikian media dapat membantu tugas guru dan siswa mencapai kompetensi dasar yang ditentukan. Agar media pembelajaran dapat dimanfaatkan dengan baik, guru perlu mengetahui kebutuhan pembelajarannya dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa tentang materi yang akan diajarkan.

DEFINISI MEDIA PEMBELAJARAN
            Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan dan perhatian anak didik untuk tercapainya tujuan pendidikan.
            Heinich, Molenda, dan Russell (1993) mendefinisikan media sebagai alat saluran komunikasi. Istilah media itu sendiri berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata "medium" yang secara harfiah berarti "perantara" yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver).
            E. De Corte dalam WS.Winkel menyatakan bahwa media pembelajaran adalah suatu sarana non personal (bukan manusia) yang digunakan atau disediakan oleh tenaga pengajar yang memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar, untuk mencapai tujuan intruksional.

FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN
Levie & Lentsz (1982) yang dikutip Hujair AH. Sanaky (2009: 6), mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu: Fungsi Atensi, Fungsi Afektif, Fungsi Kognitif, Fungsi Kompensatoris.
v  Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
v  Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan peserta didik ketika belajar atau membaca teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa. Misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
v  Fungsi kognitif media visual terlihat dari lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
v  Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. 
            Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.
            Beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
1. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi lebih langsung antara siswa dan lingkungannya.
3. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.

RAGAM DAN KLASIFIKASI MEDIA
            Setiap jenis media memiliki kemampuan dan karakteristik atau fitur spesifik yang dapat digunakan untuk keperluan yang spesifik pula. Fitur-fitur spesifik yang dimiliki oleh sebuah media pembelajaran membedakan media tersebut dengan jenis media yang lain.
            Kemp (1986) mengemukakan beberapa fitur yang juga merupakan karakteristik dari media yaitu.
· Faktor presentasi atau kemampuan dalam menyajikan gambar.
· Faktor ukuran (size); besar atau kecil
· Faktor warna (color): hitam putih atau berwarna
· Faktor gerak - diam atau bergerak
· Faktor bahasa - tertulis atau lisan
· Faktor keterkaitan antara gambar dan suara - gambar saja, suara saja atau gabungan antara gambar dan suara.
            Kemp dan Dayton (1985) mengemukakan klasifikasi jenis media sebagai berikut: (1) media cetak: (2) media yang dipamerkan (displayed media); (3) overhead transparency (OHP); (4) rekaman suara; (5) slide suara dan film strip; (6) presentasi multi gambar; (7) video dan film; (8) pembelajaran berbasis komputer (computer based instruction).
Karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung pesat beberapa jenis media seperti OHP, Slide suara, dan presentasi multi gambar sudah digantikan oleh teknologi media yang lebih canggih yaitu komputer multimedia dan jaringan. Penggunaan OHP digantikan dengan perangkat lunak computer yang penggunaannya diproyeksikan dengan LCD.
            Heinich dan kawan-kawan (2005) mengemukakan beberapa jenis media pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, instruktur, dan perancang ptogram pembelajaran yaitu: (1) media cetak/teks; (2) media pameran/display; (3) media audio; (4) gambar bergerak/motion pictures; (5) multimedia; (6) media berbasis web atau internet.
1.      Media cetak merupakan jenis media yang telah lama digunakan sebagai bahan untuk belajar. Media cetak juga dipandang sebagai jenis media yang relatif murah dan sangat fleksibel penggunaannya. Media cetak atau teks memiliki ragam yang bervariasi yang meliputi: buku, brosur, leaflet, dan hand out.
2.      Media pameran atau display media digunakan sebagai sarana informasi dan pengetahuan yang menarik bagi penggunanya. Sama halnya seperti media cetak, jenis media pembelajaran ini juga bervariasi mulai dari benda sesunguhnya (real object) sampai kepada benda tiruan atau replica dan model. Penggunaan media ini dilakukan dengan cara memamerkannya di suatu tempat tertentu sehingga pesan dan informasi yang terdapat didalamnya dapat diamati dan dipelajari oleh siswa. Contoh media pameran yaitu: realia, model, diorama, dan kit.
3.      Media audio merupakan jenis media spesifik yang efektif dan efisien untuk digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Walaupun jenis media ini dapat digunakan untuk menyampaikan hampir semua jenis informasi dan pengetahuan, namun sejumlah ahli berpandangan bahwa media audio sangat tepat untuk digunakan dalam pembelajaran tentang kemampuan berbahasa dan juga seni.
4.      Gambar bergerak atau motion pictures merupakan jenis media yang mampu memperlihatkan gambar bergerak yang terintegrasi dengan unsur suara. Contoh jenis media ini yaitu film dan video. Kedua jenis media ini memiliki features atau kemampuan yang luar biasa sebagai sebuah media komunikasi. Video dan film mampu menampilkan informasi dan pengetahuan dalam sebuah tayangan yang realistik.
5.      Multimedia merupakan produk dari kemajuan teknologi digital. Media ini mampu memberikan pengalaman belajar yang kaya bagi penggunanya. Multimedia dapat menampilkan pesan dan pengetahuan dalam bentuk gabungan atau kombinasi antara beberapa unsur seperti: teks, audio, grafis, video, dan animasi secara simultan. Dengan kemampuan ini program multimedia dapat menayangkan informasi yang sangat komprehensif untuk dipelajari oleh siswa. Penggunaan multimedia sebagai sarana pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan belajar yang dimiliki oleh individu penggunanya. Saat ini program multimedia pembelajaran telah terintegrasi penggunaanya dengan perangkat komputer.
6.      Perangkat komputer telah berkembang tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana komputasi, tapi telah menjadi sarana untuk berkomunikasi. Penggunaan komputer telah membentuk jaringan (network) yang mendunia. Sebagai pengguna jaringan komputer, Anda dapat berkomunikasi dengan jaringan komputer yang berada di belahan dunia lain. Selain untuk melakukan komunikasi antar jaringan, kita juga dapat mencari dan menemukan beragam informasi dan pengetahuan yang kita perlukan dari berbagai situs jaringan (website).
            Ragam media yang digunakan untuk aktivitas belajar dan pembelajaran juga dapat dikelompokkan berdasarkan cara pemanfaatannya mejadi media tradiosinal dan media digital. Media tradisional adalah ragam media yang digunakan dengan tanpa dukungan perangkat elektronik atau komputer. Sedangkan media digital adalah ragam media yang penggunaanya harus didukung oleh penggunaan perangkat komputer.
            Ragam media yang tergolong sebagai media tradisional yaitu: buku, poster, realia, dan model. Walaupun tidak tergolong sebagai media yang mutakhir, media tradisional tetap pouler untuk digunakan sebagai sumber belajar. Contoh media yang tergolong digital adalah media audio, video, animasi, visual atau program multiedia dan program yang ditayangkan lewat jaringan internet. Beragam media dapat digunakan untuk mendukung aktivitas pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. 



Senin, 26 Januari 2015

PENERAPAN HUKUM NEWTON PADA PROSES PERSALINAN

Keberhasilan setiap kehamilan dan kelangsungan hidup pada akhirnya bergantung pada lahirnya bayi yang sehat dan cukup matang untuk dapat bertahan hidup. Pada saat kehamilan dan persalinan, uterus harus melakukan dua fungsi yang sangat berbeda. Selama kehamilan, uterus harus tumbuh, namun tetap dalam dalam keadaan tenang agar janin dapat berkembang dan kemudian pada saat yang tepat melakukan aktivitas yang kuat dan terkoordinasi yang menyebabkan lahirnya bayi yang matang.
Sebagian besar bayi manusia dapat melewati persalinan dan lahir cukup bulan (didefinisikan antara akhir minggu ke-37 sampai minggu ke-42 kehamilan). 5% bayi lahir premature dan merupakan 85% dari semua kematian neonatus dini yang tidak berkaitan dengan deformitas letal. Semakin singkat usia gestasi, semakin buruk prognosisnya. Manusia memiliki angka persalinan premature yang sangat tinggi yaitu sekitar 5-10% dibandingkan dengan spesies lain.
Jika dilihat dari sudut pandang klinis, persalinan sering dibagi menjadi tiga tahap atau kala. Namun, secara fisiologis tidak terdapat transisi yang nyata antara tahap tersebut. Kejadian yang menuju awitan persalinan brsifat gradual dan secara tidak nyata sudah dimulai lebih awal pada kehamilan dan ketiga kala tersebut kadang tumpang tindih.
Kala I sering disebut juga sebagai kala pembukaan merupakan tahap dilatasi serviks progresif yang dimulai dari awitan permulaan kontraksi teratur terpadu (his) disertai pendataran (penipisan) dan dilatasi (pembukaan) progresif serviks. Akhir kala ini ditandai dengan dilatasi penuh (pembukaan lengkap) serviks karena kontraksi uterus menarik keseluruhan jaringan serviks ke arah atas sehingga serviks menyatu dengan segmen bawah uterus, kontinu dengan dinding uterus. Kala ini rata-rata berlangsung 12-14 jam pada primigravida, tetapi cenderung lebih singkat pada multigravida.
Kala II sering juga disebut  kala pengeluaran yaitu tahap dimana terjadi pengeluaran bayi. Kontraksi kuat dan dibantu oleh otot pernapasan. Kala II mungkin menghabiskan waktu satu jam pada primigravida  dan mungkin hanya beberapa menit pada multigravida.
Kala III persalinan sering disebut sebagai kala uri yaitu tahap pengeluaran plasenta. Pada kala ini terjadi pemisahan dan pengeluaran plasenta serta selaput ketuban (membrane amnion), dan pengendalian perdarahan dari sirkulasi uteoplasenta.
A.    Perkembangan Janin
Masa yang dimulai dari awal ketiga hingga akhir kehidupan dalam rahim dikenal sebagai masa janin. Masa ini ditandai dengan pnyempurnaan jaringan dan organ serta pertumbuhan tubuh yang cepat. Beberapa kelainan timbul pada masa ini, meskipun cacat yang disebabkan oleh gaya-gaya yang mekanik, seperti kompresi intrauterus. Demikian juga, bahaya pada sistem saraf pusat dapat mengakibatkan gangguan perilaku pascanatal dan kecerdasan.
Panjang janin biasanya disebutkan sebagai panjang puncak kepala-bokong (PPB) (tinggi duduk ) atau sebagai puncak kepala-tumit (PPT), ukuran dari verteks kepala sampai ke tumit (tinggi berdiri). Ukuran yang dinyatakan dalam sentimeter, ini kemudian dihubungkan dengan umur janin yang dinyatakan dalam minggu atau bulan. Pertumbuhan panjang sangat mencolok pada bulan ketiga, keempat, dan selima sedangkan penambahan berat badan sangat mencolok pada 2 bulan terakhir kehamilan. Secara umum lamanya kehamilan diperhitungkan 280 hari atau 40 minggu setelah hari pertama haid terakhir, atau lebih tepat 266 hari atau 38 minggu setelah pembuahan.
Umur (minggu)
PPB (cm)
Berat Badan (gr)
9-12
5-8
10-45
13-16
9-14
60-200
17-20
15-19
250-450
21-24
20-23
500-820
25-28
24-27
900-1300
29-32
28-30
1400-2100
33-36
31-34
2200-2900
37-38
35-36
3000-3400
Tabel Pertumbuhan Panjang dan Berat Badan Selama Masa Janin.
B.     Perubahan dari Bulan ke Bulan
Salah satu perubahan paling mencolok yang terjadi selama masa janin adalah pertumbuhan kepala yang relatif lebih lambat dibandingkan bagian tubuh lainnya. Pada permulaan bulan ketiga, kepala kira-kira setengah dari PPB. Menjelang permulaan bulan kelima ukuran kepala kira-kira sepertiga PPT dan pada saat lahir kira-kira seperempat PPT. oleh karena itu, sesuai dengan berlakunya waktu pertumbuhan badan bertambah cepat, tetapi pertumbuhan kepala menjadi lebih lambat.
Selama bulan ketiga, wajah makin meyerupai manusia. Mata yang mula-mula menghadap ke lateral menjadi terletak di permukaan ventral wajah dan telinga mendekati letak definitifnya di samping kepala. Anggota badan menjadi panjang relatifnya, dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, walaupun anggota badan bawah masih agak leebih pendek dan kurang berkembang dibandingkan dengan anggota badan atas. Pusat-pusat osifikasi primer terdapat di tulang-tulang panjang dan tulang tengkorak pada minggu ke-12. Pada minggu ke-12 juga, alat kelamin luar berkembang sedemikian rupa sehingga jenis kelamin janin dapat ditentukan dengan pemeriksaan luar (USG). Pada mingu ke-6, gelang-gelang usus menimbulkan benjolan besar dalam tali pusat, tetapi pada minggu ke-11 gelung-gelung ini kembali masuk ke rongga perut. Pada akhir bulan ketiga, kegiatan refleks dapat dibangkitkan pada janin yang gugur, yang menunjukkan adanya kegiatan otot. Akan tetapi, gerakan sedemikian kecilnya sehingga tidak dapat dirasakan oleh ibunya.
Pada bulan keempat dan kelima, janin memanjang dengan cepat dan pada akhir dari paruh pertama kehidupan dalam rahim, PPB-nya kira-kira 15 cm yaitu kira-kira setengah dari panjang total bayi baru lahir. Akan tetapi berat badan janin hanya sedikit bertambah pada masa ini dan menjelang akhir bulan kelima masih kurang dari 500 gr. Janin dibungkus oleh rambut-rambut halus yang disebut rambut lanugo, alis mata dan rambut kepala juga dapat dilihat. Pada bulan kelima gerakan janin biasanya jelas dapat diasakan oleh ibunya. Selama paruh kedua kehidupan dalam rahim, berat badan banyak bertambah khususnya selama 2 bulan terakhir. Yang pertambahannya meliputi 50% dari berat badan cukup bulan (kira-kira 3200 gr).
Pada bulan keenam, kulit janin kemerah-merahan dan nampak berkeriput karena tidak ada jaringan ikat di bawah kulit. Janin yang dilahirkan pada bulan keenam atau paruh pertama bulan ketujuh sukar untuk hidup. Walaupun beberapa sistem organ dapat beerfungsi, tetapi sistem pernapasan dan sistem saraf pusat belum cukup berdiferensiasi  dan koordinasi antara kedua sistem ini belum baik. Selama dua bulan terakhir, janin memperoleh kontur yang membulat karena adanya endapan lemak di bawah kulit. Menjelang akhir kehidupan dalam rahim, kulit dibungkus oleh zat lemak keputih-putihan (verniks kaseosa) yang terbentuk dari produk-produk sekresi kelenjar sebum. Ketika janin berusia 28 minggu, ia dapat hidup meskipun dengan susah payah.
Pada akhir bulan kesembilan, kepala telah mendapatkan ukuran-ukuran lingkar terbesar pada semua bagian tubuh, suatu hal yang penting berkenaan dengan lewat tidaknya janin melalui jalan lahir. Pada saat lahir, berat badan janin 3000-3400 gr, PPB-nya kira-kira 36 cm dan PPT kira-kira 50 cm. ciri-ciri seksnya jelas sekali dan testis seharusnya sudah ada di dalam skrotum.
                                  
Gambar janin berusia 3 bulan     Gambar janin berusia 4 bulan      Gambar janin berusia 5 bulan
                           
Gambar janin berusia 6 bulan       Gambar janin berusia 7 bulan          Gambar janin berusia 9 bulan
C.    Proses Persalinan
Proses persalinan adalah proses pengeluaran janin dari rahim. Berbeda dengan perkiraan masyarakat awam yang menganggap bahwa proses ini sangat mudah, maka pada kenyataannya pada proses persalinan janin akan melakukan tiga gerakan utama, yaitu memutar kepala dengan sudut 90 sambil menunduk agar dapat memasuki rongga panggul yang berbentuk oval. Setelah berada di rongga panggul dengan posisi belakang kepala di depan maka janin siap meluncur keluar. Dalam istilah kebidanan, saat seperti ini disebut kala I, yang ditandai dengan pembukaan serviks hingga 10 cm. kala II adalah pengeluaran, yaitu proses janin ke luar yang ditandai dengan adanya kontraksi otot atau his dan dorongan ibu untuk mengeran. Dan setelah kepala keluar, janin akan melakukan perputaran kembali dengan sudut 90 untuk megeluarkan bahu dan badan. Selanjutnya kala III adalah saat uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan. Yang terakhir adalah kala IV adalah lahirnya plasenta.
Pada kehamilan janin mempunyai posisi duduk. Posisi ini baik untuk mengatur peredaran darah tubuh, karena pada saat ini terjadi pembentukan organ, seperti jantung, paru-paru, ginjal dan lain-lain. Pada trimester kedua atau usia kehamilan sekitar 20 minggu usia organ sudah terbentuk walaupun belum mencapai ukuran yang seharusnya. Mulai saat ini janin akan tumbuh dengan cepat hingga mencapai ukuran 50 cm. pada saat persalinan nanti, janin harus membuka jalan lahir. Untuk memudahkan pembukaan jalan diperlukan sesuatu yang berwujud bulat dan pada tubuh manusia benda yang mempunyai wujud bulat adalah kepala bagian belakang dan juga bokong. Oleh sebab itu, kepala belakang atau bokong harus berada pada posisi di bawah pada saat janin siap lahir.
Untuk mendapatkan posisi tersebut maka gaya gravitasi bumi akan membantu memutarnya. Telah diketahui bahwa gaya gravitasi akan mudah menarik benda yang massanya besar. Dengan tujuan agar gaya gravitasi dapat mudah memutar kepala janin ke bawah, maka kepala janin mempunyai massa yang lebih besar dari badannya atau sering dikatakan bahwa perkembangan kepala janin lebih cepat dari badan. Hal itulah yang menjadikan alasan agar ibu hamil mulai awal trimester ke dua dianjurkan banyak berjalan agar posisi janin baik. Ibu hamil yang tidak banyak bergerak mempunyai resiko mendapatkan janin pada posisi sungsang, karena tidak dapat berputar dan persalinan hanya dapat dilakukan melalui pembedahan. Janin mempunyai posisi yang normal adalah kepala berada di bawah dengan bokong di bagian atas dan posisi janin menyamping ibu. Bila janin sudah cukup umur yaitu setelah 38 minggu kehamilan maka saatnya janin keluar dan selanjutnya berkembang menjadi seorang manusia. Posisi persalinan yang umumnya digunakan adalah posisi tegak (berdiri, duduk, dan jongkok), posisi berbaring (berbaring ke samping kiri, dorsal recumbent, dan litotomi), posisi setengah duduk dan tegak atau semi fowler.
Hukum Newton yang membahas tentang keseimbangan statis (Hukum I Newton) dan juga kesetimbangan dinamis (Hukum II Newton) dapat digunakan untuk mengkaji gaya-gaya yang bekerja pada proses persalinan, sehingga akan diperoleh sisi yang tepat dan akan menghasilkan suatu proses persalinan yang cepat dan aman. menentukan posisi persalinan dapat dari pandangan ilmu fisika, khususnya tentang mekanika. Di dalam mekanika, dikenal besaran yang disebut gaya (F). Gaya-gaya yang bekerja pada proses persalinan adalah gaya gravitasi, gaya berat, gaya gesek. Karena gaya merupakan besaran vektor maka operasi dapat menggunakan vektor analisis. Dalam membahas tentang gaya, maka hukum yang menyertainya adalah Hukum Newton. Hukum Newton dibagi menjadi 3 yaitu:
1.      Hukum I Newton adalah hukum kesetimbangan translasi atau ∑F = 0
2.      Hukum II Newton adalah hukum dinamika atau ∑F = m.a
3.      Hukum III Newton adalah hukum aksi-reaksi atau F aksi = - F reaksi

Dengan mengetahui jenis gaya yang bekerja , serta memanfaatkan Hukum Newton dengan operasi penjumlahan vector maka dapat dijelaskan kelebihan dan keuntungan berbagai posisi persalinan normal. Dengan mempertimbangkan gaya-gaya yang bekerja pada proses persalinan yaitu gaya kontraksi otot rahim, gaya gravitasi bumi, dan gaya dorong sehingga beberapa posisi persalinan dapat ditentukan.

1.      Posisi Tegak (berdiri, duduk dan jongkok)
 
Fk adalah gaya kontraksi otot rahim, W adalah gaya tarik gravitasi bumi yang setara dengan massa bayi, Fd adalah gaya dorong yang dilakukan oleh ibu. Untuk gaya gesek tidak ada karena adanya air ketuban  yang pecah sesaat sebelum proses persalinan berlangsung. Sehingga jalan lahir menjadi licin. Bila ditinjau dari vektor gaya, maka semua gaya yang bekerja pada janin mempunyai arah yang sama sehingga kecepatan keluarnya janin sangat ditentukan oleh gaya dorong ibu, karena diasumsikan gaya otot dan gravitasi adalah konstan atau tidak berubah. Bila ∑F = m a, maka Fk+W+Fd = m a, sehingga Fd = m a – (Fk+W). selain itu dengan bantuan gaya graviasi, maka kekuatan ibu untuk mendorong tidak terlalu besar.
2.      Posisi Berbaring (berbaring ke samping kiri, dorsal recumbent, litotomi)
       
W pada posisi berbaring sama dengan nol atau tidak ada bantuan gaya tarik gravitasi bumi, sehingga kecepatan keluarnya janin hanya ditentukan oleh gaya kontraksi otot rahim dan gaya dorong ibu. Bila ∑F = m a, maka Fk+Fd = m a, sehingga Fd = m a – Fk. Dengan kata lain, kecepatan proses persalinan sangat ditentukan oleh kekuatan ibu mendorong, sehingga ibu harus mendorong dengan kuat.

3.      Posisi Setengah Duduk dan Tegak atau Semi Fowler

   
Posisi semi fowler adalah posisi setengah duduk dengan besar sudut yang dibentuk antara kaki dan badan adalah antara 35-45. Diagram vektor gaya dapat diasumsikan sebagai sebuah benda yang berada di bidang miring. Dengan menggunaka Hukum II Newton yaitu: ∑F = m a, maka Fk+Wcosα+Fd = m a, sehingga Fd = m a – (Fk+Wcos). Hal ini dapat diartikan bahwa pada posisisemi fowler gaya gravitasi bumi memberikan pengaruh walaupun tidak besar yaitu 82% untuk sudut α sama dengan 35 dan 71% sama dengan 45 dari berat janin (W). akibatnya ibu hamil tidak harus mendorong dengan kuat karena masih ada bantuan dari gaya tarik gravitasi bumidan proses perslinan dapat lebih cepat. Posisi semi fowler dapat dilakukan dengan cara merangkul kedua paha sampai batas siku dan kepala sedikit diangkat sehingga dagu mendekati dada dan ibu dapat melihat perutnya. Keadaan ini dilakukan bila tempat tidur yang diatur ketinggiannya tidak tersedia.

















DAFTAR PUSTAKA


Halliday, D, Robert Resnick dan Jearl Walker, 2010. Fisika Dasar, Edisi Ketujuh Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Sadler, T.W, 2000. Embriologi Kedokteran Langman, Edisi Ketujuh. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Ramadhy, Asep Sufyan,  2011. Biologi Reproduksi. Bandung : PT Refika Aditama